Pages

Selasa, 06 Desember 2011

Humanistics Studies

           Berdasarkan teori-teori Durkheim, Freud, dan sebagainya mengenai agama. Banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran untuk saya untuk tidak menjugde bahwa agama lain salah dan hanya agama saya yang benar. Semua itu adalah opini masing-masing individu dan tidak  ada satu orang pun yang berhak menjugde agama lain salah. Masing-masing agama mempunyai referensi kebenaran. Saya yakin dengan agama yang saya peluk dan yakin bahwa saya mempunyai Tuhan. Saya yakin bahwa Tuhan itu ada. Sekali pun ada orang yang tidak percaya adanya Tuhan, saya tidak bisa mengatakan dia sesat atau salah. Itu adalah pilihan hidup dia. Hidup adalah pilihan.
           Sebuah lukisan yang di pajang pada pameran lukisan tidak mungkin ada tanpa ada yang membuatnya. Adanya sebuah lukisan disebabkan karena ada orang ahli pada bidang itu yang membuatnya. Itu adalah gambaran kecil yang dapat saya ambil untuk berfikir secara logis bahwa pasti adanya pencipta dan hasil dari yang diciptakan. Pelukis adalah pencipta lukisan dan lukisan itu sendiri adalah hasil yang diciptakan. Hal itu berkaitan antara Tuhan dan manusia. Saya termasuk orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada (Theis)
            Lukisan tidak akan pernah ada jika tidak ada yang mencipakannya atau membuatnya. Sama halnya manusia tidak akan pernah ada di muka bumi ini jika tidak ada yang menciptakannya. Lalu siapakah yang menciptakan manusia? Tidak mungkin manusia akan ada begitu saja. Tuhan lah yang menciptakan manusia dari segumpal tanah lalu diberi nyawa kemudian jadilah seorang manusia.
            Melihat alam yang sangat luar biasa keindahannya yaitu adanya pegunungan, laut, danau, air terjun, matahari, bintang, bulan, planet-planet, dan sebagainya. Semua itu ada sebelum manusia ada. Lalu semua itu bukan juga ciptaan  manusia. Semua itu tidak mungkin ada begitu saja tanpa ada yang menciptakan. Lagi–lagi dari situlah kenapa saya percaya bahwa ada yang menciptakan seluruh alam termasuk makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. Tuhan lah yang menciptakan semuanya itu dan dari situlah penyebab saya percaya bahwa Tuhan itu ada. Mengapa? Dengan menyaksikan alam yang begitu indah ini yang tidak mungkin manusia yang menciptakan, akal saya disini terus berfikir dan berfikir. Begitu juga adanya tsunami, gunung meletus, gempa bumi, dan sebagainya. Fenomena tersebut terjadi karena ada yang menghendaki atau ibarat di dunia perfilman ada sutradara yang mengatur jalannya cerita dan sebagainya. Sama halnya dengan ini, Tuhan yang menghendaki adanya bencana tersebut dan Tuhan yang mengatur jalannya kehidupan ini.
            Tuhan yang saya percaya adalah Allah SWT. Saya sangat yakin bahwa Allah SWT adalah Tuhan saya. Tuhan yang menciptakan saya menjadi seorang manusia berjenis kelamin perempuan yang lahir dari rahim ibu saya. Apakah saya pernah melihat Allah SWT? Jawabannya adalah belum pernah melihatNya. Lalu bagaimana saya dapat percaya bahwa Allah SWT itu adalah Tuhan  saya kalau saya belum pernah melihatnya sama sekali? Walaupun saya belum pernah melihatNya tapi saya tetap yakin bahwa Allah SWT itu ada. Keyakinan saya berdasarkan pemikiran logis saya bahwa Tuhan berbeda dengan makhluk yang diciptakanNya. Seorang Pelukis berbeda dengan lukisannya. Sekalipun pelukis melukis wujud manusia namun ia tidak bisa memberikan nyawa kepada lukisan tersebut sehingga lukisan itu hanyalah benda mati dan berbeda dengan pelukisnya.  Begitu juga dengan Seorang pemahat patung berbeda dengan patung yang dibuatnya. Walaupun patungnya sama berbentuk manusia tetapi tetap saja patung itu tidak bernyawa. Begitu juga dengan Allah SWt, seluruh alam dan makhluk hidup yang Allah ciptakan dapat dilihat dengan kasat mata, tetapi karena Allah SWT berbeda dengan makhluk ciptaannya maka Allah SWT tidak dpat dilihat. Allah SWT itu seperti cinta. Cinta tidak dapat dilihat dengan kasat mata tapi hanya bisa dirasakan. Begitu juga dengan Allah SWT. Allah tidak dapat dilihat dengan kasat mata tetapi dapat dirasakan keberadaanNya. Bagaimana saya merasakan keberadaan Allah SWT? Saya merasakan keberadaan Allah SWT di hati saya. Allah SWT ada di hati saya karena saya mencintai Allah SWT.
              

Selasa, 01 November 2011

Humanistic Studies

Identitas Pribadi

     Agama ? Agama merupakan hal yang utama dari sebuah identitas. Setiap umat manusia mempunyai kepercayaan yang dianut. Jika dilihat dari sudut pandang saya sendiri, saya mengakui sebagai seorang muslim karena dari lahir sampai sekarang orangtua selalu membekali saya dengan ajaran-ajaran islam yang membuat saya meyakini agama yang saya anut. Mungkin bisa dikatakan sebagai agama keturunan karena saya tidak diberi kebebasan untuk memilih agama. Saya pun pernah berfikir apakah agama yang saya anut ialah benar adanya ? kadang saya ingin mencari tahu sendiri kebenarannya tanpa selalu orangtua yang memberi tahu, namun sampai sekarang belum terlaksana niat saya karena takut tergoyah iman saya. Seiring berjalannya waktu saya semakin yakin dengan islam dan melaksanakan shalat. Saya mendefinisikan diri saya sebagai seorang muslim tidak hanya karena orangtua namun karena adanya kesadaran diri pada saya untuk melaksanakan shalat yang merupakan kewajiban seorang muslim dan menggunakan jilbab dimana dalam islam itu, wanita yang sudah balik (dewasa) wajib menggunakan jilbab untuk menutup aurat. Jika dilihat dari sudut pandang oranglain, mereka menganggap saya seorang muslim karena dilihat dari nama saya yaitu “Nurul Hidayah” yang merupakan nama yang sangat islami dan yang kedua karena saya menggunakan jilbab.
     Betawi? Saya menganggap sebagai suku betawi karena dua hal. Pertama Ayah saya adalah suku betawi dimana kedua orang tua beliau ialah suku betawi. Kedua ialah saya lahir dan tinggal dijakarta sudah selama 19 tahun. Jika dilihat dari sudut pandang orang lain menilai saya, beberapa orang sudah dapat menebak denga tepat bahwa saya ialah bersuku betawi karena dapat dilihat dari gaya bicara saya yang terkadang logat betawinya muncul. Ada yang bilang orang betawi itu pelit dan udik (norak), namun saya sebagai orang yang bersuku betawi menentang hal itu karena saya merasa diri saya suka berbagi (tidak pelit) dan tidak norak.
      Mayoritas ialah suatu keadaan yang sudah saya rasakan selama 19 tahun ini yaitu sebagai seorang muslim. Saya selalu memposisikan diri saya biasa saja tidak terlalu islami. Mengapa saya melakukan hal yang demikian? Saya hanya ingin terlihat tidak terlalu mencolok dilingkungan saya bergaul agar tidak terjadi kecanggungan dalam bergaul yang berbeda agama. Ketika teman saya yang non muslm ingin ke tempat beribadah pun saya mempersilahkan. Jika teman saya dapat menghargai saya dengan kepercayaan yang saya anut dan tidak mencegah untuk beribadah, maka saya akan melakukan hal yang demikian serupa. Namun, jika ada yang tidak sesuai dengan saya maka saya akan menjaga jarak dengan orang tersebut.
     Minoritas terjadi pada saya bukan mengenai agama, budaya, ataupun semacamnya. Namun minoritas yang saya rasakan ialah saat ini. Hampir seluruh teman saya yang jurusannya pendidikan matematika di SSE berasal dari IPA ketika SMA. Menghadapi hal itu sebenarnya cukup berat untuk saya karena ketika mereka sedang asik membicarakan mengenai Biologi, Kimia, dan Fisika, saya tidak mengetahui sebanyak apa yang mereka tahu. Sehingga saya merasa tertinggal dengan mereka bahkan sempat merasa salah jurusan. Namun, saya memilih MATEMATIKA karena saya menyukai matematika. Untuk menghadapi situasi tersebut saya berusaha menggali ilmu dari teman saya yang lebih tahu dari saya sehingga sedikit demi sedikit saya dapat beradaptasi dengan apa yang mereka bicarakan.

Selasa, 04 Oktober 2011

Humanistic Studies

Smile SEJARAH NAMAKU Smile

          Orangtua saya tidak mempersiapkan nama saya jauh sebelum kelahiran saya. Mereka menjelaskan bahwa setelah saya lahir baru lah mereka memikirkan sebaiknya mau diberi nama apa. Saya tidak mengerti mengapa mereka sangat dadakan memberikan nama untuk saya Eye rolling smile. Waku itu nenek saya yang berasal dari ibunya ayah saya masih hidup. Kemudian nenek saya mengusulkan agar saya diberikan nama “NURUL HUDA”.
             Satu bulan setelah kelahiran saya sudah berlalu. Namun ibu saya masih memikirkan untuk mengganti nama saya karena pada waktu itu kebetulan saya belum bikin akte kelahiran jadi tidak masalah untuk mengganti nama. Menurut ibu saya kata “HUDA” yang tertera di nama saya itu lebih cocok untuk anak laki-laki Boy. Bukan hanya itu saja, ibu saya juga berfikir bahwa nama “NURUL HUDA” seperti nama sekolahan saja. Akhirnya ibu pun memberikan usul kepada ayah saya agar kata “HUDA” diganti menjadi ”HIDAYAH”. Ibu saya asal ceplos tanpa mengetahui maknanya. Pada waktu itu pun nama NURUL HIDAYAH masih langka, tidak seperti sekarang sudah seperti kacang goreng, sangat banyak sekali yang mempunyai nama itu.
              Nahhh. Sekarang apa sebenarnya makna dari nama “NURUL HIDAYAH”. Ketika ibu saya memberikan nama itu walaupun tidak mengerti apa maknanya namun ayah saya sangat menyetujui nama itu. Ternyata kata ayah saya nama “HIDAYAH” berasal dari bahasa arab yang mengandung arti “PETUNJUK”. Sedangkan NURUL berasal dari bahasa arab juga yaitu dari kata “NUR” dimana artinya ialah “CAHAYA”. Jika digabungkan ialah berarti “CAHAYA PETUNJUK” Sun. Ayah saya sangat berharap dengan diberikan nama itu saya selalu diberikan cahaya petunjuk dari Allah SWT dalam menjalani kehidupan yang penuh godaan.
              Kenapa nama saya harus berasal dari bahasa arab? Ayah dan nenek saya ialah berasal dari suku betawi. Suku betawi identik dengan patuh dengan agama nya. Agama yang dimaksud ialah agama islam. Karena kepatuhannya itu maka untuk memberikan nama harus berasal dari kitab suci Al-Quran dimana di dalamnya tertera dengan bahasa arab.
              Apakah nama itu sangat sesuai atau cocok untuk saya? Selama hampir 20 tahun sudah saya hidup, saya sangat bersyukur dan sangat menyukai nama ini Red heart. Walaupun nama “NURUL HIDAYAH” sekarang ini sudah merajalela dari nama sekolah, masjid, buku, film, atau apapun pasti ada, saya tidak malu. Banyak teman saya meledek nama saya karena nama saya pasaran tapi saya tidak peduli. Menurut saya nama saya bukan pasaran, tapi karena maknanya yang terkandung sangat bermanfaat dan sangat baik sekali maka banyak orang memberikan nama hidayah atau nurul hidayah.
               Saya tidak terfikirkan dan dengan tegas tidak mau apabila nama saya diganti atau ditambahkan dengan apapun. Mengapa? Menurut saya nama saya sudah keren Thumbs up dan terkenal dimana-mana (hehe). Siapa yang gak kenal dengan “NURUL HIDAYAH”. Setiap orang yang berkenalan dengan saya pasti inget nama lengkap saya karena mudah dihafal juga. Hal yang paling utama karena nama ini merupakan doa dari orangtua saya dan saya harus menghargai dan menghormati apa yang sudah diberikan oleh orangtua saya. saya juga merasa bahwa nama saya sangat kuat sekali. Selama hampir 20 tahun ini dimana saya dalam keadaan sedih, susah, bahagia sekalipun saya merasa saya selalu diberikan petunjuk petunjuk oleh Allah SWT. Hebatnya doa dibalik arti sebuah nama.

Minggu, 25 September 2011

HUMANISTIC STUDIES

Harapan saya dan Tanggapan Pribadi
 
image201108310002
        Pertama kali saya mendengar mata kuliah “Humanistic Studies”, yang ada dalam benak saya ialah saya akan mempelajari mengenai kewarganegaraan atau biasa kita kenal dengan sebutan PKN. Namun, ternyata lebih dari itu.
             Pertemuan pada Rabu lalu telah dijelaskan apa saja yang akan kita pelajari pada mata kuliah Humanistic Studies. Menurut sepemahaman saya berdasarkan yang sudah dijelaskan ialah mata kuliah ini akan mempelajari berbagai hal yang berkaitan tentang kehidupan. Berikut saya akan memaparkan beberapa inti-inti yang akan dipelajari.
1. Mempelajari mengenai bagaimana kita mengetahui dan mengenal secara mendalam mengenai identitas diri. Contoh: Apakah arti dan makna dari nama kita? Bagaimana kita bisa menyebut diri kita adalah orang betawi, sunda, batak, dll? Kenapa kita memeluk agama islam, Kristen, budha, hindu, dll? Jika anda adalah muslim lalu masuk ke gereja, apakah anda yakin anda masih dalam keadaan muslim atau sebaliknya?
2. Mempelajari bagaimana menyikapi mengenai perbedaan ras, budaya, agama. Contoh: bagaimana kita menanggapi perbedaan agama, ras, dan budaya?
3. Membahas masalah umum atau pendapat. Contoh: Apakah seorang perempuan lemah? Jika Pancasila no.1 diganti menjadi ketuhanan berdasarkan syariat islam, bagaimana menurut kita? Setuju atau tidak? Mengapa?
            Masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui apa yang akan dipelajari berikutnya. Berdasarkan pemaparan di atas, menurut saya mata kuliah ini ada hubungannya dengan antropologi atau lebih kepada filsafat-filsafat.
            Berdasarkan inti-inti yang sudah dipaparkan di atas, mata kuliah ini salah satunya akan mempelajari bagaimana cara menyikapi perbedaan ras, budaya, dan agama. Jika ditanya bagaimana saya menanggapi atau menyikapi hal tersebut? Maka berikut saya uraikan menurut saya pribadi.
           Saya merupakan orang yang fanatik jika ditanya masalah agama, namun rasa fanatik saya tidak menimbulkan kebencian terhadap pemeluk agama lain. Rasa fanatik saya merupakan karena keyakinan saya dengan apa yang saya pegang, namun fanatik itu bukan suatu hal yang buruk menurut saya karena saya bisa mengontrol diri saya sendiri. Cara saya mengontrol rasa fanatik saya ialah menghargai pemeluk agama lain.
           Menurut saya perbedaan itu indah jika kita bisa saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain. Walaupun seseorang ataupun sekelompok itu berbeda agama, ras, dan budaya dengan saya, jika mereka dapat berbuat baik dan menghargai saya maka saya akan melakukan hal yang sama. Namun, dibalik kelebihan saya yang dapat bersikap positif terhadap perbedaan, saya sadar bahwa saya memiliki kekurangan yaitu terkadang saya mempunyai stereotype terhadap sekelompok tertentu.
        Sebagai seorang mahasiswa tentunya saya mempunyai harapan pada mata kuliah Humanistic Studies. Berikut beberapa harapan saya pada mata kuliah ini:
1. Dapat lebih mengenal identitas saya sendiri bukan hanya sekedar nama.
2. Menjadi mahasiswi yang kritis dalam hal apapun sehingga pengetahuan dan wawasan saya luas.
3. Dapat mengimplementasikan ilmu pengetahuan ini pada kehidupan sehari-hari.
4. Sebagai seorang mahasiswa Sampoerna School of Education tentunya di tuntut untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, jadi saya mengharapkan agar dengan memahami Humanistic Studies ini saya juga dapat memaksimalkan nilai saya pada mid-term dan final exam nanti.
5. Menjadi manusia yang dapat berinteraksi dan bersosialisai dengan baik tanpa mendiskriminasikan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, budaya, agama, pendapat, dll.

Baru Sadar Setelah Dua (2) Tahun


broken-heart
       Terdapat seorang gadis yang cantik, mau belajar, dan positif thinking. Gadis tersebut masih duduk di kelas dua (2) SMA dan baru saja mengenakan kerudung. Pada awalnya semua baik-baik saja, gadis ini menjalani masa remaja dengan penuh semangat dan ceria. Sosialisasi terhadap teman-temannya cukup bagus dan sangat antusias belajar mengenai akademik maupun non akademik, aktif mengikuti ekstrakurikuler. Tak lupa gadis ini sangat mencintai Ibunya dan selalu tidak ingin melukai hati ibunya.
        Suatu ketika gadis ini dipertemukan oleh seorang pria dimana pria ini langsung jatuh cinta pada gadis ini. Mungkin terlalu singkat untuk menyukai wanita yang baru saja ditemui, namun gadis ini tidak dapat membohongi perasaannya bahwa ia juga suka dengan pria yang baru saja dikenalnya. Akhirnya mereka pun "jadian".
         Ibu sang gadis ini pun mengetahui bahwa anak gadisnya sudah mempunyai pacar, namun sang ibu tidak menyetujui hubungan gadis ini dengan alasan penampilan pria ini tidak baik (berantakan) dan tidak pantas untuk anaknya karena pria ini bukan pria baik-baik. Ibu ini pun melarang anaknya berpacaran dengannya dengan alasan demi kebaikan sang anak agar harus pilih-pilih dalam memilih sang pacar. Sang ibu langsung menyuruh sang anak putus dengan pacarnya. Sang gadis hanya diam tanpa kata.
         Sang gadis tidak menuruti keinginan ibunya. Dalam hatinya ia ingin membuktikan kepada sang ibu bahwa cara menilai seseorang tidak hanya dilihat dari penampilan, sang gadis ingin membuktikan bahwa pacarnya ialah pria yang baik dan dapat memberikan pengaruh positif kepada dirinya. Sang gadis menjalin hubungan backstreet dengan sang pacar. Sang gadis sangat yakin sang pacar seorang yang baik dan memang serius dengannya. Sang gadis dan sang pacar menjalin komitmen bahwa mereka akan jujur kepada ibu sang gadis setelah mereka berdua dapat mewujudkan visi misnya yaitu sukses terlebih dahulu bersama-sama.
         Perjuangan sang gadis pun tak kunjung henti, ia selalu mewujudkan rasa sayang kepada pacarnya dengan semangat ia untuk belajar sampai akhirnya satu tahun kemudian sang gadis lulus SMA dengan mendapat penghargaan "siswa yang mendapat nilai UAN dan UAS terbaik ke-2 di kelas" dan kuliah dengan beasiswa tanpa membebankan orantuanya. Selama SMA gadis ini selalu ada buat pacarnya dalam keadaan apapun. Menerima pacarnya apa adanya dan tidak memandang latar belakang pacarnya seperti apa, dan selalu menyemangati pacarnya untuk mencapai cita-citanya.
         Masa kuliah adalah masa-masa gadis ini sibuk menjalani aktifitas, namun gadis ini selalu tidak lupa untuk berusaha selalu kasih kabar kepada pacarnya agar tidak khawatir walaupun tidak sesering waktu SMA. Kesibukan sang gadis membuat sang pacar berpaling. Sang pacar menyari-nyari kesalahan sang gadis pada awalnya. Sampai pada akhirnya sang gadis mengetahui sang pacar selingkuh dengan mudahnya , melupakan semua komitmen yang udah dijanjikan dan melupakan visi misi. Sang gadis memutuskan hubungan ini.
         Sang gadis sadar bahwa ia telah melukai hati ibunya. Walaupun sang ibu tidak mengetui hal ini dan sang ibu hanya bangga dengan prestasi anaknya, namun dengan kebohongan sang gadis mengenai backstreet sangat membuat gadis ini menyesal tiada tara. Prestasi yang diraih sang gadis tidak sebanding dengan kebohongan yang telah dilakukan selama dua (2) tahun. Sang gadis sadar bahwa apa yang dikatakan ibunya mengenai sang mantan ialah benar adanya. Sang gadis sangat menyesal tidak menuruti apa yang dikatakan sang ibu. Namun, penyesalan tiada guna. Sekarang yang dilakukan sang gadis ialah selalu menuruti perkataan ibu yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan berusaha sekeras mungkin agar tidak melukai hati sang ibu. Sang gadis berjanji bahwa ia akan selalu mendengar nasehat ibunya yang baik-baik.

Doa Ibu Memang Mujarab

Melalui doa Ibu yang tulus, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin berkat ridha Allah swt.
Simaklah kisah berikut ini.
images
      Pada suatu hari ada seorang gadis yang sangat antusias untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sang gadis sudah melakukan berbagai hal agar bisa mewujudkan impiannya seperti mengintropeksi diri dimana minat, bakat, dan potensi sang gadis sebenarnya dan membeli buku snmptn untuk belajar. Hal itu dilakukan agar jurusan yang diambil nanti tidaklah salah pilih. Sang gadis pun melakukan konsul dengan guru BK, orantua, serta kakak-kakaknya.
      Sang gadis sangat antusias untuk mengambil jurusan sastra jepang di sebuah universitas ternama di Jakarta. Namun, ketika semangatnya membara untuk mewujudkan hal itu tidaklah sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Sang gadis mengetahui bahwa orantuanya sama sekali tidak mempunyai uang untuk membiayai kuliahnya, bahkan untuk mengikuti snmptn yang seharga ratusan ribu pun orangtua sang gadis tidak dapat memberinya. Namun, orangtua sang gadis terutama sang ibu tetap memberikan semangat kepada sang gadis agar tidak patah semangat dan bersabar untuk menunggu sampai uang ada.
      Sang gadis sadar bahwa ia tidak bisa diam saja dengan masalah yang dihadapinya. Menunggu kepastian yang dijanjikan oleh orangtuanya yang belum pasti kapan datangnya. Sang gadis pun meyadari bahwa ia masih mempunyai seorang gadis yang masih duduk dibangku SD yang harus masih dibiayai. Belum lagi kakak-kakak dari sang gadis yang belum mempunyai gelar apapun. Menyikapi hal ini sang gadis bertekad untuk tidak membebankan orangtua lagi.
       Seorang sahabat sang gadis memberikan kabar mengenai kuliah yang bebas biaya (beasiswa). Namun hanya terdapat dua (2) jurusan yaitu Pendidikan Bahasa Inggris dan Matematika. Sang gadis berfikir apa yang seharusnya ia ambil ? Bahasa inggris ia tidak terlalu suka dan matematika ia hanya menyukai tetapi tidak menguasai semua materi yang ada dalam matematika dikarenakan ia siswa yang bukan jurusan IPA maupun IPS. Namun, demi tekadnya yang ingin tetap bisa kuliah akhirnya sang gadis memutuskan untuk mencoba mengikuti tes masuk tersebut dengan mengambil jurusan pendidikan matematika.
        Sang gadis yakin bahwa jika ia menyukai apa yang ia lakukan maka pasti selalu ada jalan untuk melewatinya walaupun sulit. Namun, ada saja orang-orang disekelilingnya ada yang menyepelekannya bahwa hanya jurusan IPA saja yang bisa mengambil jurusan itu. Di sisi lain banyak juga yang mendukung gadis ini bahwa gadis ini mempunyai bakat Matematika. Sang gadis pun meceritakan semua kejadian ini kepada ibunya.
        Sang ibu berkata, " Jika kamu sudah memutuskannya dan sudah yakin dengan apa yang kamu pilih, maka jangan hiraukan apa yang oranglain katakan tentang dirimu. Tetaplah yakin dan semangat , jangan lupa untuk selalu berdoa kepa Allah SWT. Ibu yakin bahwa kamu pasti mendapatkan beasiswa itu karena ibu selalu mendoakanmu dikala tengah malam kalian semua masih tertidur".
       Tes masuk pun sudah dilakukan sebanyak 3 tahap. Salah satunya ialah praktik mengajar anak jalanan. Sang gadis mengadu kepada ibunya di tahap ini ia sangat berkecil hati karena sang gadis merasa tampil dengan buruk. Sang gadis menangis dan merasa bahwa ia telah gagal dan tidak akan mendapatkan beasiswa itu. pada tahap lain pun sang gadis tidak mengerjakan soal dengan maksimal, bahkan dari 30 soal ia hanya yakin 10 nomor saja.
        Sang ibu selalu memberikan semangat kepada sang gadis dan selalu berkata, " kamu jangan berkecil hati, serahkan semua kepada yang maha kuasa. ibu yakin bahwa kamu mendapatkan beasiswa itu. Ibu selalu mendoakanmu nak dan percayalah"
       Pengumuman mengatakan bahwa sang gadis lulus mendapatkan beasiswa dan terdaftar sebagai mahasiswa utama bukan mahasiswa cadangan. Puji syukur atas rahmat Allah SWT. Doa sang ibu memang mujarab.