Selasa, 01 November 2011

Humanistic Studies

Identitas Pribadi

     Agama ? Agama merupakan hal yang utama dari sebuah identitas. Setiap umat manusia mempunyai kepercayaan yang dianut. Jika dilihat dari sudut pandang saya sendiri, saya mengakui sebagai seorang muslim karena dari lahir sampai sekarang orangtua selalu membekali saya dengan ajaran-ajaran islam yang membuat saya meyakini agama yang saya anut. Mungkin bisa dikatakan sebagai agama keturunan karena saya tidak diberi kebebasan untuk memilih agama. Saya pun pernah berfikir apakah agama yang saya anut ialah benar adanya ? kadang saya ingin mencari tahu sendiri kebenarannya tanpa selalu orangtua yang memberi tahu, namun sampai sekarang belum terlaksana niat saya karena takut tergoyah iman saya. Seiring berjalannya waktu saya semakin yakin dengan islam dan melaksanakan shalat. Saya mendefinisikan diri saya sebagai seorang muslim tidak hanya karena orangtua namun karena adanya kesadaran diri pada saya untuk melaksanakan shalat yang merupakan kewajiban seorang muslim dan menggunakan jilbab dimana dalam islam itu, wanita yang sudah balik (dewasa) wajib menggunakan jilbab untuk menutup aurat. Jika dilihat dari sudut pandang oranglain, mereka menganggap saya seorang muslim karena dilihat dari nama saya yaitu “Nurul Hidayah” yang merupakan nama yang sangat islami dan yang kedua karena saya menggunakan jilbab.
     Betawi? Saya menganggap sebagai suku betawi karena dua hal. Pertama Ayah saya adalah suku betawi dimana kedua orang tua beliau ialah suku betawi. Kedua ialah saya lahir dan tinggal dijakarta sudah selama 19 tahun. Jika dilihat dari sudut pandang orang lain menilai saya, beberapa orang sudah dapat menebak denga tepat bahwa saya ialah bersuku betawi karena dapat dilihat dari gaya bicara saya yang terkadang logat betawinya muncul. Ada yang bilang orang betawi itu pelit dan udik (norak), namun saya sebagai orang yang bersuku betawi menentang hal itu karena saya merasa diri saya suka berbagi (tidak pelit) dan tidak norak.
      Mayoritas ialah suatu keadaan yang sudah saya rasakan selama 19 tahun ini yaitu sebagai seorang muslim. Saya selalu memposisikan diri saya biasa saja tidak terlalu islami. Mengapa saya melakukan hal yang demikian? Saya hanya ingin terlihat tidak terlalu mencolok dilingkungan saya bergaul agar tidak terjadi kecanggungan dalam bergaul yang berbeda agama. Ketika teman saya yang non muslm ingin ke tempat beribadah pun saya mempersilahkan. Jika teman saya dapat menghargai saya dengan kepercayaan yang saya anut dan tidak mencegah untuk beribadah, maka saya akan melakukan hal yang demikian serupa. Namun, jika ada yang tidak sesuai dengan saya maka saya akan menjaga jarak dengan orang tersebut.
     Minoritas terjadi pada saya bukan mengenai agama, budaya, ataupun semacamnya. Namun minoritas yang saya rasakan ialah saat ini. Hampir seluruh teman saya yang jurusannya pendidikan matematika di SSE berasal dari IPA ketika SMA. Menghadapi hal itu sebenarnya cukup berat untuk saya karena ketika mereka sedang asik membicarakan mengenai Biologi, Kimia, dan Fisika, saya tidak mengetahui sebanyak apa yang mereka tahu. Sehingga saya merasa tertinggal dengan mereka bahkan sempat merasa salah jurusan. Namun, saya memilih MATEMATIKA karena saya menyukai matematika. Untuk menghadapi situasi tersebut saya berusaha menggali ilmu dari teman saya yang lebih tahu dari saya sehingga sedikit demi sedikit saya dapat beradaptasi dengan apa yang mereka bicarakan.

0 komentar:

Posting Komentar