Minggu, 25 September 2011

HUMANISTIC STUDIES

Harapan saya dan Tanggapan Pribadi
 
image201108310002
        Pertama kali saya mendengar mata kuliah “Humanistic Studies”, yang ada dalam benak saya ialah saya akan mempelajari mengenai kewarganegaraan atau biasa kita kenal dengan sebutan PKN. Namun, ternyata lebih dari itu.
             Pertemuan pada Rabu lalu telah dijelaskan apa saja yang akan kita pelajari pada mata kuliah Humanistic Studies. Menurut sepemahaman saya berdasarkan yang sudah dijelaskan ialah mata kuliah ini akan mempelajari berbagai hal yang berkaitan tentang kehidupan. Berikut saya akan memaparkan beberapa inti-inti yang akan dipelajari.
1. Mempelajari mengenai bagaimana kita mengetahui dan mengenal secara mendalam mengenai identitas diri. Contoh: Apakah arti dan makna dari nama kita? Bagaimana kita bisa menyebut diri kita adalah orang betawi, sunda, batak, dll? Kenapa kita memeluk agama islam, Kristen, budha, hindu, dll? Jika anda adalah muslim lalu masuk ke gereja, apakah anda yakin anda masih dalam keadaan muslim atau sebaliknya?
2. Mempelajari bagaimana menyikapi mengenai perbedaan ras, budaya, agama. Contoh: bagaimana kita menanggapi perbedaan agama, ras, dan budaya?
3. Membahas masalah umum atau pendapat. Contoh: Apakah seorang perempuan lemah? Jika Pancasila no.1 diganti menjadi ketuhanan berdasarkan syariat islam, bagaimana menurut kita? Setuju atau tidak? Mengapa?
            Masih banyak hal-hal yang belum saya ketahui apa yang akan dipelajari berikutnya. Berdasarkan pemaparan di atas, menurut saya mata kuliah ini ada hubungannya dengan antropologi atau lebih kepada filsafat-filsafat.
            Berdasarkan inti-inti yang sudah dipaparkan di atas, mata kuliah ini salah satunya akan mempelajari bagaimana cara menyikapi perbedaan ras, budaya, dan agama. Jika ditanya bagaimana saya menanggapi atau menyikapi hal tersebut? Maka berikut saya uraikan menurut saya pribadi.
           Saya merupakan orang yang fanatik jika ditanya masalah agama, namun rasa fanatik saya tidak menimbulkan kebencian terhadap pemeluk agama lain. Rasa fanatik saya merupakan karena keyakinan saya dengan apa yang saya pegang, namun fanatik itu bukan suatu hal yang buruk menurut saya karena saya bisa mengontrol diri saya sendiri. Cara saya mengontrol rasa fanatik saya ialah menghargai pemeluk agama lain.
           Menurut saya perbedaan itu indah jika kita bisa saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain. Walaupun seseorang ataupun sekelompok itu berbeda agama, ras, dan budaya dengan saya, jika mereka dapat berbuat baik dan menghargai saya maka saya akan melakukan hal yang sama. Namun, dibalik kelebihan saya yang dapat bersikap positif terhadap perbedaan, saya sadar bahwa saya memiliki kekurangan yaitu terkadang saya mempunyai stereotype terhadap sekelompok tertentu.
        Sebagai seorang mahasiswa tentunya saya mempunyai harapan pada mata kuliah Humanistic Studies. Berikut beberapa harapan saya pada mata kuliah ini:
1. Dapat lebih mengenal identitas saya sendiri bukan hanya sekedar nama.
2. Menjadi mahasiswi yang kritis dalam hal apapun sehingga pengetahuan dan wawasan saya luas.
3. Dapat mengimplementasikan ilmu pengetahuan ini pada kehidupan sehari-hari.
4. Sebagai seorang mahasiswa Sampoerna School of Education tentunya di tuntut untuk mendapatkan nilai yang memuaskan, jadi saya mengharapkan agar dengan memahami Humanistic Studies ini saya juga dapat memaksimalkan nilai saya pada mid-term dan final exam nanti.
5. Menjadi manusia yang dapat berinteraksi dan bersosialisai dengan baik tanpa mendiskriminasikan satu sama lain hanya karena perbedaan ras, budaya, agama, pendapat, dll.

Baru Sadar Setelah Dua (2) Tahun


broken-heart
       Terdapat seorang gadis yang cantik, mau belajar, dan positif thinking. Gadis tersebut masih duduk di kelas dua (2) SMA dan baru saja mengenakan kerudung. Pada awalnya semua baik-baik saja, gadis ini menjalani masa remaja dengan penuh semangat dan ceria. Sosialisasi terhadap teman-temannya cukup bagus dan sangat antusias belajar mengenai akademik maupun non akademik, aktif mengikuti ekstrakurikuler. Tak lupa gadis ini sangat mencintai Ibunya dan selalu tidak ingin melukai hati ibunya.
        Suatu ketika gadis ini dipertemukan oleh seorang pria dimana pria ini langsung jatuh cinta pada gadis ini. Mungkin terlalu singkat untuk menyukai wanita yang baru saja ditemui, namun gadis ini tidak dapat membohongi perasaannya bahwa ia juga suka dengan pria yang baru saja dikenalnya. Akhirnya mereka pun "jadian".
         Ibu sang gadis ini pun mengetahui bahwa anak gadisnya sudah mempunyai pacar, namun sang ibu tidak menyetujui hubungan gadis ini dengan alasan penampilan pria ini tidak baik (berantakan) dan tidak pantas untuk anaknya karena pria ini bukan pria baik-baik. Ibu ini pun melarang anaknya berpacaran dengannya dengan alasan demi kebaikan sang anak agar harus pilih-pilih dalam memilih sang pacar. Sang ibu langsung menyuruh sang anak putus dengan pacarnya. Sang gadis hanya diam tanpa kata.
         Sang gadis tidak menuruti keinginan ibunya. Dalam hatinya ia ingin membuktikan kepada sang ibu bahwa cara menilai seseorang tidak hanya dilihat dari penampilan, sang gadis ingin membuktikan bahwa pacarnya ialah pria yang baik dan dapat memberikan pengaruh positif kepada dirinya. Sang gadis menjalin hubungan backstreet dengan sang pacar. Sang gadis sangat yakin sang pacar seorang yang baik dan memang serius dengannya. Sang gadis dan sang pacar menjalin komitmen bahwa mereka akan jujur kepada ibu sang gadis setelah mereka berdua dapat mewujudkan visi misnya yaitu sukses terlebih dahulu bersama-sama.
         Perjuangan sang gadis pun tak kunjung henti, ia selalu mewujudkan rasa sayang kepada pacarnya dengan semangat ia untuk belajar sampai akhirnya satu tahun kemudian sang gadis lulus SMA dengan mendapat penghargaan "siswa yang mendapat nilai UAN dan UAS terbaik ke-2 di kelas" dan kuliah dengan beasiswa tanpa membebankan orantuanya. Selama SMA gadis ini selalu ada buat pacarnya dalam keadaan apapun. Menerima pacarnya apa adanya dan tidak memandang latar belakang pacarnya seperti apa, dan selalu menyemangati pacarnya untuk mencapai cita-citanya.
         Masa kuliah adalah masa-masa gadis ini sibuk menjalani aktifitas, namun gadis ini selalu tidak lupa untuk berusaha selalu kasih kabar kepada pacarnya agar tidak khawatir walaupun tidak sesering waktu SMA. Kesibukan sang gadis membuat sang pacar berpaling. Sang pacar menyari-nyari kesalahan sang gadis pada awalnya. Sampai pada akhirnya sang gadis mengetahui sang pacar selingkuh dengan mudahnya , melupakan semua komitmen yang udah dijanjikan dan melupakan visi misi. Sang gadis memutuskan hubungan ini.
         Sang gadis sadar bahwa ia telah melukai hati ibunya. Walaupun sang ibu tidak mengetui hal ini dan sang ibu hanya bangga dengan prestasi anaknya, namun dengan kebohongan sang gadis mengenai backstreet sangat membuat gadis ini menyesal tiada tara. Prestasi yang diraih sang gadis tidak sebanding dengan kebohongan yang telah dilakukan selama dua (2) tahun. Sang gadis sadar bahwa apa yang dikatakan ibunya mengenai sang mantan ialah benar adanya. Sang gadis sangat menyesal tidak menuruti apa yang dikatakan sang ibu. Namun, penyesalan tiada guna. Sekarang yang dilakukan sang gadis ialah selalu menuruti perkataan ibu yang selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan berusaha sekeras mungkin agar tidak melukai hati sang ibu. Sang gadis berjanji bahwa ia akan selalu mendengar nasehat ibunya yang baik-baik.

Doa Ibu Memang Mujarab

Melalui doa Ibu yang tulus, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin berkat ridha Allah swt.
Simaklah kisah berikut ini.
images
      Pada suatu hari ada seorang gadis yang sangat antusias untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sang gadis sudah melakukan berbagai hal agar bisa mewujudkan impiannya seperti mengintropeksi diri dimana minat, bakat, dan potensi sang gadis sebenarnya dan membeli buku snmptn untuk belajar. Hal itu dilakukan agar jurusan yang diambil nanti tidaklah salah pilih. Sang gadis pun melakukan konsul dengan guru BK, orantua, serta kakak-kakaknya.
      Sang gadis sangat antusias untuk mengambil jurusan sastra jepang di sebuah universitas ternama di Jakarta. Namun, ketika semangatnya membara untuk mewujudkan hal itu tidaklah sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Sang gadis mengetahui bahwa orantuanya sama sekali tidak mempunyai uang untuk membiayai kuliahnya, bahkan untuk mengikuti snmptn yang seharga ratusan ribu pun orangtua sang gadis tidak dapat memberinya. Namun, orangtua sang gadis terutama sang ibu tetap memberikan semangat kepada sang gadis agar tidak patah semangat dan bersabar untuk menunggu sampai uang ada.
      Sang gadis sadar bahwa ia tidak bisa diam saja dengan masalah yang dihadapinya. Menunggu kepastian yang dijanjikan oleh orangtuanya yang belum pasti kapan datangnya. Sang gadis pun meyadari bahwa ia masih mempunyai seorang gadis yang masih duduk dibangku SD yang harus masih dibiayai. Belum lagi kakak-kakak dari sang gadis yang belum mempunyai gelar apapun. Menyikapi hal ini sang gadis bertekad untuk tidak membebankan orangtua lagi.
       Seorang sahabat sang gadis memberikan kabar mengenai kuliah yang bebas biaya (beasiswa). Namun hanya terdapat dua (2) jurusan yaitu Pendidikan Bahasa Inggris dan Matematika. Sang gadis berfikir apa yang seharusnya ia ambil ? Bahasa inggris ia tidak terlalu suka dan matematika ia hanya menyukai tetapi tidak menguasai semua materi yang ada dalam matematika dikarenakan ia siswa yang bukan jurusan IPA maupun IPS. Namun, demi tekadnya yang ingin tetap bisa kuliah akhirnya sang gadis memutuskan untuk mencoba mengikuti tes masuk tersebut dengan mengambil jurusan pendidikan matematika.
        Sang gadis yakin bahwa jika ia menyukai apa yang ia lakukan maka pasti selalu ada jalan untuk melewatinya walaupun sulit. Namun, ada saja orang-orang disekelilingnya ada yang menyepelekannya bahwa hanya jurusan IPA saja yang bisa mengambil jurusan itu. Di sisi lain banyak juga yang mendukung gadis ini bahwa gadis ini mempunyai bakat Matematika. Sang gadis pun meceritakan semua kejadian ini kepada ibunya.
        Sang ibu berkata, " Jika kamu sudah memutuskannya dan sudah yakin dengan apa yang kamu pilih, maka jangan hiraukan apa yang oranglain katakan tentang dirimu. Tetaplah yakin dan semangat , jangan lupa untuk selalu berdoa kepa Allah SWT. Ibu yakin bahwa kamu pasti mendapatkan beasiswa itu karena ibu selalu mendoakanmu dikala tengah malam kalian semua masih tertidur".
       Tes masuk pun sudah dilakukan sebanyak 3 tahap. Salah satunya ialah praktik mengajar anak jalanan. Sang gadis mengadu kepada ibunya di tahap ini ia sangat berkecil hati karena sang gadis merasa tampil dengan buruk. Sang gadis menangis dan merasa bahwa ia telah gagal dan tidak akan mendapatkan beasiswa itu. pada tahap lain pun sang gadis tidak mengerjakan soal dengan maksimal, bahkan dari 30 soal ia hanya yakin 10 nomor saja.
        Sang ibu selalu memberikan semangat kepada sang gadis dan selalu berkata, " kamu jangan berkecil hati, serahkan semua kepada yang maha kuasa. ibu yakin bahwa kamu mendapatkan beasiswa itu. Ibu selalu mendoakanmu nak dan percayalah"
       Pengumuman mengatakan bahwa sang gadis lulus mendapatkan beasiswa dan terdaftar sebagai mahasiswa utama bukan mahasiswa cadangan. Puji syukur atas rahmat Allah SWT. Doa sang ibu memang mujarab.